Dalam dunia skincare, proses formulasi sering terlihat seperti perjalanan teknis yang berfokus pada bahan, stabilitas, dan performa. Namun di balik setiap keputusan teknis, ada satu pertanyaan penting yang harus dijawab oleh formulator: apakah produk ini akan memberikan pengalaman yang nyaman bagi pengguna?
Sebuah formula dapat memiliki target teknis yang sangat baik. Bahan aktif sudah dipilih, parameter stabilitas terpenuhi, dan hasil pengujian menunjukkan potensi yang menjanjikan. Namun ketika digunakan oleh konsumen, produk tersebut tetap harus terasa nyaman, mudah diaplikasikan, dan sesuai dengan kebiasaan sehari-hari.
Karena itu, formulator sering menghadapi situasi ketika target teknis dan pengalaman pengguna tidak selalu berjalan dalam arah yang sama. Keputusan yang diambil bukan sekadar memilih salah satu, tetapi mencari keseimbangan agar formula tetap memiliki nilai dari sisi sains maupun penggunaan nyata.
Target Teknis Tidak Selalu Terlihat di Kulit Pengguna
Namun beberapa target tersebut tidak selalu langsung terlihat oleh pengguna. Konsumen tidak melihat bagaimana sebuah formula mempertahankan kestabilannya selama penyimpanan atau bagaimana bahan-bahan di dalamnya bekerja secara sistematis. Mereka pertama kali merasakan hal yang lebih sederhana, seperti apakah produk terasa nyaman atau tidak.
Dalam The Cosmetic Code, pengembangan produk kosmetik dijelaskan sebagai proses menerjemahkan kebutuhan menjadi produk melalui perpaduan antara ilmu formulasi, teknologi, inovasi, dan pemahaman konsumen. Artinya, keberhasilan produk tidak hanya ditentukan oleh aspek teknis, tetapi juga bagaimana produk tersebut diterima dalam kehidupan nyata.
Situasi seperti ini membuat formulator perlu mempertimbangkan kembali bagaimana target teknis tersebut diterjemahkan menjadi pengalaman yang lebih mudah diterima.
Dalam formulasi kosmetik, kompromi bukan berarti mengurangi kualitas. Justru kemampuan menentukan prioritas menjadi salah satu bagian penting dari pekerjaan formulator. Sebuah keputusan kecil dapat menentukan apakah produk akan menjadi formula yang hanya baik di laboratorium atau benar-benar digunakan secara konsisten oleh konsumen.
Dalam The Anatomy of Quality, kualitas sebuah produk dibangun melalui kemampuan sistem menghasilkan pengalaman yang konsisten dan dapat dipercaya. Prinsip ini menunjukkan bahwa pengalaman pengguna bukan elemen tambahan, melainkan bagian dari kualitas itu sendiri.
Contoh nyata dapat dilihat pada penyesuaian tekstur sebuah pelembap. Formulator mungkin ingin membuat formula dengan tingkat hidrasi tertentu. Namun jika hasil akhirnya terlalu berat untuk penggunaan harian, formula tersebut perlu disesuaikan agar tetap memberikan manfaat tanpa mengurangi kenyamanan.
Hal menarik lainnya adalah bahwa pengguna sering hanya melihat hasil akhir dari berbagai kompromi tersebut. Mereka tidak melihat berbagai versi formula yang diuji, pilihan yang ditolak, atau penyesuaian kecil yang dilakukan agar produk terasa lebih baik.