Formula yang baik tidak dimulai dari daftar bahan yang ingin dimasukkan. Formula dimulai dari pemahaman tentang masalah yang ingin diselesaikan.
Dalam dunia skincare, bahan aktif sering menjadi bagian yang paling mudah menarik perhatian. Konsumen mengenal nama-nama seperti niacinamide, ceramide, hyaluronic acid, atau berbagai bahan baru yang muncul dalam tren kecantikan. Semakin banyak bahan yang disebutkan dalam sebuah produk, semakin sering formula tersebut dianggap lebih canggih.
Namun bagi formulator, proses pengembangan produk tidak dimulai dari pertanyaan "bahan apa yang ingin digunakan?". Pertanyaan pertama justru adalah "kebutuhan apa yang ingin dijawab melalui formula ini?". Jawaban dari pertanyaan tersebut akan menentukan arah pengembangan, mulai dari pemilihan bahan, tekstur, sistem penghantaran, hingga pengalaman penggunaan.
Karena itu, sebuah formula yang baik harus memiliki alasan sebelum memiliki bahan. Tanpa tujuan yang jelas, penambahan bahan hanya berisiko membuat formula menjadi kompleks tanpa memberikan nilai yang benar-benar dibutuhkan pengguna.
Formula Dibangun dari Masalah, Bukan Sekadar Daftar Bahan
Dalam proses pengembangan produk, formulator perlu memahami siapa pengguna yang dituju dan kondisi apa yang ingin dibantu. Apakah produk dibuat untuk membantu menjaga hidrasi? Mendukung kenyamanan kulit sensitif? Membantu tampilan kulit kusam? Atau memberikan pengalaman perawatan yang lebih praktis?
Setiap tujuan membutuhkan pendekatan yang berbeda. Bahan yang terlihat menarik secara individual belum tentu menjadi pilihan terbaik ketika digabungkan dengan bahan lain dalam satu sistem formula.
Dalam buku The Cosmetic Code, pengembangan kosmetik dijelaskan sebagai proses menerjemahkan ide menjadi produk melalui pendekatan formulasi, teknologi, inovasi, dan pemahaman terhadap kebutuhan konsumen. Artinya, sebuah formula tidak hanya dibangun berdasarkan tren bahan, tetapi berdasarkan alasan mengapa setiap keputusan dibuat.
Contoh sederhana dapat dilihat pada produk yang dirancang untuk menjaga skin barrier. Formulator tidak hanya memilih satu bahan yang populer, tetapi mempertimbangkan kombinasi komponen yang dapat mendukung fungsi tersebut secara menyeluruh. Tekstur, kenyamanan penggunaan, stabilitas, dan kompatibilitas bahan juga menjadi bagian dari pertimbangan.
Hal serupa terlihat pada Lumibiome Radiance Duo. Produk ini tidak dimulai dari ide untuk memasukkan sebanyak mungkin bahan aktif, tetapi dari konsep bahwa kondisi kulit dapat berubah setiap hari sehingga pengguna membutuhkan pendekatan yang lebih fleksibel. Karena itu, produk dikembangkan dengan dua formula berbeda dalam satu kemasan, yaitu serum dan cream, yang dapat disesuaikan dengan kondisi kulit pengguna.
Pendekatan seperti ini menunjukkan bahwa bahan hanyalah bagian dari jawaban. Pertanyaan yang lebih penting adalah bagaimana bahan tersebut bekerja dalam sebuah sistem untuk menyelesaikan kebutuhan tertentu.
Lebih Banyak Bahan Tidak Selalu Berarti Formula Lebih Baik
Salah satu kesalahpahaman yang sering muncul adalah anggapan bahwa formula dengan jumlah bahan lebih banyak otomatis memiliki kualitas lebih tinggi. Padahal setiap tambahan komponen membawa konsekuensi yang harus dipertimbangkan.
Dalam buku The Anatomy of Quality, kualitas produk dibangun melalui kemampuan sistem menghasilkan produk yang konsisten dan dapat dipercaya. Semakin kompleks sebuah sistem, semakin penting pula pengendalian terhadap setiap bagian yang ada di dalamnya.
Contoh nyata dapat dilihat ketika sebuah formula ingin menggabungkan banyak manfaat sekaligus. Menambahkan banyak bahan aktif mungkin terlihat menarik dari sisi komunikasi. Namun formulator harus memastikan bahwa seluruh komponen tersebut dapat bekerja bersama, tetap stabil, dan tidak mengurangi kenyamanan pengguna.
Profesor Marc Pissavini dalam buku Handbook of Cosmetic Science and Technology [2014] menjelaskan bahwa keberhasilan formulasi kosmetik membutuhkan keseimbangan antara efektivitas, stabilitas, dan pengalaman penggunaan. Formula yang baik bukan sekadar kumpulan bahan unggulan, melainkan sistem yang setiap bagiannya memiliki fungsi jelas.
Hal menarik lainnya adalah bahwa keputusan untuk tidak memasukkan sebuah bahan juga merupakan bagian dari keahlian formulasi. Ada bahan yang secara teori memiliki manfaat baik, tetapi tidak sesuai dengan tujuan produk atau dapat mengganggu keseimbangan formula.
Karena itu, proses menciptakan produk skincare bukan tentang memasukkan sebanyak mungkin hal menarik ke dalam satu kemasan. Formula yang kuat justru lahir dari kemampuan memilih, menyusun prioritas, dan memahami alasan di balik setiap keputusan. Sebelum sebuah bahan masuk ke dalam formula, formulator harus terlebih dahulu memahami mengapa bahan tersebut memang diperlukan. [][Eva Evilia & Liora Maheswari/BTL]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.