Produk tidak hanya hadir dalam bentuk kemasan dan komposisi bahan. Sebelum digunakan, sebuah produk sudah membawa cerita yang membentuk cara konsumen memandang nilainya.
Dalam dunia skincare, formula memang menjadi fondasi utama sebuah produk. Kandungan bahan aktif, teknologi formulasi, stabilitas, dan keamanan penggunaan menjadi faktor penting yang menentukan kualitas produk. Namun ketika konsumen mengambil keputusan membeli, pertimbangannya sering kali tidak berhenti pada daftar bahan yang tertulis di kemasan.
Ada faktor lain yang ikut bekerja, yaitu cerita di balik produk tersebut. Bagaimana produk dibuat, mengapa formula itu dikembangkan, siapa yang berada di balik prosesnya, dan masalah apa yang ingin diselesaikan sering memengaruhi cara konsumen memahami sebuah produk.
Hal ini bukan berarti konsumen mengabaikan formula. Namun manusia cenderung memberi makna pada sesuatu melalui konteks dan pengalaman. Sebuah formula yang baik sering menjadi lebih mudah dipercaya ketika konsumen memahami alasan mengapa formula tersebut hadir.
Cerita Membantu Konsumen Memahami Nilai Produk
Dalam banyak kasus, konsumen tidak memiliki kemampuan atau waktu untuk mengevaluasi seluruh aspek teknis sebuah formula. Mereka mungkin memahami beberapa bahan aktif populer, tetapi tidak selalu dapat menilai bagaimana setiap komponen bekerja bersama dalam sebuah sistem formulasi.
Karena itu, cerita menjadi jembatan antara dunia teknis dan pengalaman pengguna. Cerita membantu menerjemahkan proses yang kompleks menjadi sesuatu yang lebih mudah dipahami dan memiliki hubungan emosional dengan kebutuhan sehari-hari.
Pakar pemasaran Martin Lindstrom dalam buku Buyology [2008] menjelaskan bahwa keputusan konsumen sering dipengaruhi oleh faktor emosional dan asosiasi yang terbentuk sebelum pengalaman penggunaan terjadi. Dalam konteks skincare, cerita dapat membantu membangun persepsi mengenai kualitas, kepercayaan, dan relevansi sebuah produk.
Contoh sederhana dapat dilihat pada dua produk dengan formula yang memiliki fungsi serupa. Produk pertama hanya menjelaskan daftar bahan dan klaim manfaat. Produk kedua menjelaskan perjalanan pengembangan formula, alasan pemilihan bahan, serta masalah kulit yang ingin dijawab. Meskipun fungsi teknisnya mungkin serupa, pengalaman konsumen terhadap kedua produk tersebut bisa terasa berbeda.
Cerita membuat konsumen memahami bahwa produk bukan sekadar campuran bahan, tetapi hasil dari serangkaian keputusan yang memiliki tujuan tertentu. Pemahaman tersebut dapat memperkuat rasa percaya sebelum pengguna benar-benar mencoba produk.
Formula Tetap Menjadi Dasar, Cerita Membantu Membangun Kepercayaan
Meskipun cerita memiliki pengaruh besar, kualitas formula tetap menjadi fondasi yang menentukan keberlanjutan sebuah produk. Cerita yang menarik tidak dapat menggantikan produk yang tidak nyaman digunakan atau tidak mampu memenuhi harapan pengguna.
Dalam Blueprint of Trust, Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm. menjelaskan kepercayaan dibangun melalui kemampuan sebuah sistem memberikan pengalaman yang konsisten dan dapat diandalkan. Artinya, cerita dapat membuka pintu pertama hubungan dengan konsumen, tetapi pengalaman nyata setelah penggunaan yang menentukan apakah kepercayaan tersebut akan bertahan.
Contoh nyata dapat dilihat pada produk yang memiliki kisah pengembangan panjang. Cerita mengenai riset, proses formulasi, atau tantangan yang dilewati tim pengembang dapat meningkatkan apresiasi pengguna. Namun jika produk tersebut tidak memberikan pengalaman yang sesuai ketika digunakan, cerita tersebut tidak cukup untuk mempertahankan hubungan dengan konsumen.
Profesor Marc Pissavini dalam buku Handbook of Cosmetic Science and Technology [2014] menjelaskan bahwa keberhasilan kosmetik tidak hanya bergantung pada komposisi bahan, tetapi juga pada bagaimana produk diterima dan digunakan oleh konsumen. Hal ini menunjukkan bahwa aspek teknis dan pengalaman pengguna harus berjalan bersama.
Hal menarik lainnya adalah bahwa cerita dapat membuat konsumen lebih memahami alasan di balik keputusan formulasi. Misalnya, mengapa sebuah produk memilih tekstur tertentu, mengapa tidak semua bahan aktif dimasukkan, atau mengapa sebuah formula dibuat lebih sederhana. Penjelasan tersebut membantu konsumen melihat bahwa setiap keputusan memiliki pertimbangan.
Konsumen tak hanya membeli apa yang ada di dalam botol. Mereka juga membeli keyakinan bahwa produk tersebut dibuat dengan tujuan yang jelas dan memahami kebutuhan mereka. Formula memberikan dasar ilmiah, sementara cerita memberikan konteks yang membuat konsumen lebih mudah membangun hubungan dengan sebuah produk. [][Eva Evilia & Adrian Damar/BTL]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.