Banyak orang mengira mereka menilai produk dari formulanya. Padahal sering kali penilaian pertama sudah terbentuk bahkan sebelum produk menyentuh kulit.
Dalam dunia skincare, nama produk sering dianggap sekadar identitas atau alat pemasaran. Selama formulanya baik dan hasilnya memuaskan, nama dianggap tidak memiliki pengaruh besar terhadap pengalaman pengguna. Namun berbagai penelitian perilaku konsumen menunjukkan bahwa persepsi terhadap sebuah produk sering mulai terbentuk jauh sebelum produk digunakan.
Nama jadi salah satu elemen pertama yang berinteraksi dengan konsumen. Sebuah nama dapat membangun kesan ilmiah, premium, lembut, agresif, atau bahkan revolusioner. Kesan awal tersebut kemudian membentuk harapan mengenai bagaimana produk akan bekerja dan hasil seperti apa yang akan diberikan.
Karena itu, proses menentukan nama produk tidak sesederhana memilih kata yang terdengar menarik. Bagi banyak brand, nama merupakan bagian dari pengalaman pengguna yang mulai bekerja bahkan sebelum kemasan dibuka.
Nama Produk Membantu Membangun Cerita
Ketika konsumen melihat nama seperti Ultra Repair, Instant Glow, atau Skin Recovery, pikiran mereka secara otomatis mulai membentuk gambaran mengenai fungsi produk tersebut. Nama menjadi semacam janji awal yang memberi petunjuk tentang apa yang bisa diharapkan pengguna.
Pakar pemasaran Martin Lindstrom dalam buku Brand Sense [2005] menjelaskan bahwa persepsi konsumen sering dibentuk oleh kombinasi berbagai rangsangan sebelum pengalaman penggunaan terjadi. Nama, warna, kemasan, dan bahasa komunikasi dapat memengaruhi bagaimana seseorang menilai sebuah produk bahkan sebelum mencoba isinya.
Contoh sederhana dapat dilihat pada dua produk dengan formula yang sangat mirip tetapi menggunakan nama yang berbeda. Produk dengan nama yang terdengar ilmiah sering dianggap lebih serius dan lebih efektif. Sebaliknya, produk dengan nama yang terdengar lembut dan emosional sering dianggap lebih nyaman atau lebih ramah untuk penggunaan sehari-hari.
Situasi seperti ini menunjukkan bahwa nama tidak hanya berfungsi sebagai pembeda antarproduk. Nama juga membantu membangun narasi yang kemudian memengaruhi cara konsumen memahami produk tersebut.
Hal inilah yang membuat banyak tim pengembangan produk menghabiskan waktu cukup lama hanya untuk menentukan nama yang tepat. Mereka tidak sedang mencari kata yang paling unik semata, tetapi berusaha menemukan identitas yang selaras dengan karakter formula di dalamnya.
Ekspektasi yang Terlalu Tinggi Bisa Menjadi Tantangan
Di sisi lain, nama yang terlalu ambisius juga dapat menciptakan tantangan tersendiri. Ketika sebuah nama menjanjikan hasil yang sangat besar, ekspektasi pengguna ikut meningkat. Akibatnya, produk yang sebenarnya bekerja dengan baik tetap berisiko dianggap mengecewakan jika hasilnya tidak sesuai dengan gambaran yang sudah terbentuk di kepala pengguna.
Profesor Gerald Zaltman dalam buku How Customers Think [2003] mengemukakan bahwa keputusan dan penilaian konsumen sering dipengaruhi proses bawah sadar yang terbentuk sebelum pengalaman nyata terjadi. Harapan yang terlalu tinggi dapat membuat pengalaman penggunaan terasa kurang memuaskan meskipun kualitas produk sebenarnya baik.
Contoh yang cukup sering terlihat adalah penggunaan kata-kata seperti instant, miracle, atau transforming dalam nama produk. Istilah seperti ini dapat menarik perhatian karena terdengar menjanjikan. Namun pada saat yang sama, istilah tersebut berpotensi menciptakan ekspektasi yang sulit dipenuhi oleh proses biologis kulit yang memang membutuhkan waktu untuk berubah.
Karena itu, banyak brand yang semakin berhati-hati dalam menentukan nama produk. Nama yang baik bukan hanya menarik perhatian, tetapi juga membantu membangun harapan yang realistis terhadap apa yang bisa dilakukan formula tersebut.
Menentukan nama produk akhirnya menjadi bagian penting dari proses pengembangan, bukan sekadar tahap pemasaran di akhir proyek. Nama membantu menjembatani dunia formulasi dengan dunia konsumen. Ketika nama dan karakter produk berjalan searah, pengalaman penggunaan biasanya terasa lebih utuh karena apa yang dibayangkan pengguna memiliki hubungan yang lebih dekat dengan apa yang benar-benar mereka rasakan. [][Eva Evilia & Liora Maheswari/BTL]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.