Istilah microbiome skincare semakin populer. Namun apakah semua produk yang ingin mendukung keseimbangan kulit harus mengandung mikroorganisme hidup?
Dalam dunia skincare, istilah microbiome dan probiotic sering muncul berdekatan. Banyak konsumen kemudian memahami keduanya sebagai konsep yang sama, seolah produk yang mendukung kesehatan microbiome selalu harus mengandung probiotic.
Padahal, hubungan antara skincare dan microbiome jauh lebih kompleks. Kulit bukan hanya tempat tinggal mikroorganisme, tetapi sebuah ekosistem yang melibatkan interaksi antara microbial community, skin barrier, pH, hidrasi, lingkungan, dan kondisi biologis pengguna.
Karena itu, pertanyaan yang lebih tepat bukan hanya "apakah produk ini mengandung probiotic?", tetapi "strategi biologis apa yang ingin dicapai oleh formula tersebut?"
Microbiome Skincare Tidak Selalu Berarti Probiotic Skincare
Salah satu kesalahpahaman yang sering muncul adalah anggapan bahwa mendukung microbiome berarti harus menambahkan bakteri hidup ke dalam produk. Padahal, pendekatan terhadap ekosistem kulit dapat dilakukan melalui berbagai strategi.
Probiotic merupakan pendekatan yang menggunakan mikroorganisme hidup dengan tujuan memberikan manfaat bagi pengguna. Karena melibatkan organisme hidup, konsep ini membawa tantangan formulasi yang cukup besar, seperti menjaga keberlangsungan hidup mikroorganisme, mempertahankan keamanan produk, serta memastikan kestabilan selama penyimpanan.
Sementara itu, prebiotic dan postbiotic memiliki pendekatan yang berbeda. Prebiotic berfokus pada penyediaan lingkungan atau sumber yang dapat dimanfaatkan oleh mikroorganisme tertentu, sedangkan postbiotic menggunakan komponen dari mikroorganisme yang sudah tidak hidup. Ketiganya memiliki konsep biologis dan tantangan formulasi yang berbeda.
Prof. Dr. apt. Keri Lestari, M.Si. menjelaskan bahwa microbiome sebaiknya dipahami sebagai bagian dari sistem kulit yang lebih besar, bukan sekadar mencari satu jenis mikroorganisme tertentu. Pendekatan yang lebih tepat adalah memahami bagaimana komunitas mikroorganisme berinteraksi dengan kondisi kulit tempat mereka hidup.
Contoh sederhananya, produk yang membantu menjaga skin barrier dan hidrasi juga dapat berkontribusi terhadap lingkungan kulit yang mendukung keseimbangan microbiome. Produk tersebut tidak harus selalu membawa konsep probiotic untuk memiliki pendekatan terhadap ekosistem kulit.
Hal ini menunjukkan bahwa istilah microbiome skincare memiliki cakupan yang lebih luas dibandingkan sekadar penggunaan probiotic.
Formula Harus Menjawab Masalah Biologis, Bukan Sekadar Mengikuti Tren
Dalam pengembangan produk, pemilihan strategi tidak seharusnya dimulai dari tren bahan. Pertanyaan utamanya adalah masalah biologis apa yang ingin dijawab, bukti apa yang mendukungnya, dan apakah konsep tersebut dapat diterjemahkan menjadi formula yang stabil serta aman digunakan.
Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm. menjelaskan bahwa konsep biologis harus mampu bertahan ketika masuk ke dunia formulasi. Sebuah bahan atau pendekatan yang menarik secara teori tetap harus mempertimbangkan stabilitas, kompatibilitas, proses produksi, dan pengalaman penggunaan sebelum menjadi produk nyata.
Hal ini sangat terlihat pada formulasi probiotic skincare. Karena melibatkan mikroorganisme hidup, formulator harus memikirkan banyak faktor sekaligus, mulai dari pH, sistem pengawetan, paparan oksigen, suhu, proses manufaktur, hingga masa simpan produk.
Tantangan tersebut membuat penggunaan probiotic dalam kosmetik tidak sesederhana menambahkan bakteri ke dalam formula. Formulator harus memastikan bahwa pendekatan tersebut tetap relevan sampai produk digunakan oleh konsumen.
Dr. Zoe Diana Draelos, ahli dermatologi kosmetik dari Amerika Serikat, juga menekankan pentingnya melihat produk kosmetik berdasarkan tujuan dan bukti yang mendukung penggunaannya. Sebuah konsep yang menarik secara ilmiah tetap perlu dinilai berdasarkan bagaimana formula tersebut bekerja pada kondisi nyata.
Karena itu, tidak ada satu strategi microbiome skincare yang otomatis menjadi pilihan terbaik untuk semua kondisi. Probiotic, prebiotic, dan postbiotic memiliki peran masing-masing, tetapi keputusan penggunaannya harus mengikuti kebutuhan biologis, tujuan produk, dan kekuatan bukti yang tersedia.
Memahami hal ini membantu konsumen melihat skincare dengan perspektif yang lebih matang. Produk yang mendukung microbiome bukan selalu produk yang memiliki istilah paling populer di kemasan, melainkan produk yang memahami hubungan antara formula, kulit, dan sistem biologis yang ingin didukung. [][Eva Evilia & Adrian Damar/BTL]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.