Konsistensi perawatan kulit tidak hanya ditentukan oleh produk yang dimiliki. Kebiasaan melewatkan langkah tertentu juga dapat memengaruhi bagaimana rutinitas dijalankan sehari-hari.
Dalam dunia skincare, banyak orang memiliki rutinitas yang sudah direncanakan dengan baik. Ada produk pembersih, serum, pelembap, dan pelindung matahari yang masing-masing memiliki fungsi tertentu. Meski begitu, tidak semua langkah selalu terlaksana, terutama ketika jadwal padat, tubuh lelah, atau waktu perawatan terbatas.
Eksperimen sederhana ini mengajak pengguna mencatat produk yang paling sering terlewat selama 14 hari. Setiap kali sebuah langkah dilewati, pengguna mencatat waktu, situasi, dan alasan yang melatarbelakanginya. Tujuannya bukan mencari kesalahan, melainkan memahami pola kebiasaan yang selama ini mungkin tidak disadari.
Catatan Kecil Membantu Menemukan Pola Kebiasaan
Pada beberapa hari pertama, pengguna mungkin menemukan bahwa produk tertentu sering terlewat dalam situasi yang hampir sama. Rutinitas malam, misalnya, lebih mudah terabaikan setelah hari yang melelahkan. Sementara itu, langkah perawatan pagi dapat terlewat ketika pengguna terburu-buru memulai aktivitas.
Dengan mencatat kejadian tersebut, pengguna dapat membedakan antara lupa sesekali dan pola yang berulang. Produk yang sering terlewat belum tentu tidak disukai atau tidak dibutuhkan, karena penyebabnya bisa berkaitan dengan waktu, urutan penggunaan, atau kondisi lingkungan. Pengamatan ini membantu menentukan bagian rutinitas yang perlu disesuaikan agar lebih realistis.
Psikolog Peter M. Gollwitzer dari New York University, melalui penelitiannya mengenai implementation intentions, membahas bagaimana rencana tindakan yang spesifik dapat membantu seseorang menerjemahkan niat menjadi perilaku. Pendekatan ini relevan untuk rutinitas perawatan karena keputusan sederhana mengenai kapan dan dalam situasi apa suatu langkah dilakukan dapat membantu mengurangi kelalaian.
Contohnya, seseorang yang sering melewatkan pelembap malam karena terlalu lelah dapat mencoba menempatkannya di lokasi yang mudah dijangkau setelah membersihkan wajah. Penyesuaian sederhana seperti ini membuat langkah tersebut lebih mudah dilakukan tanpa harus menambah produk atau mengubah seluruh rutinitas.
Memperbaiki Rutinitas Tidak Selalu Berarti Menambah Disiplin
Setelah pola mulai terlihat, pengguna dapat mengevaluasi apakah rutinitas yang dimiliki sesuai dengan kehidupan sehari-hari. Jika satu langkah terus terlewat karena membutuhkan waktu terlalu lama, solusi yang relevan mungkin berupa penyederhanaan urutan atau penyesuaian waktu penggunaan. Pendekatan ini lebih berguna daripada sekadar menyalahkan diri sendiri karena dianggap kurang disiplin.
Apt. Cahya Khairani Kusumawulanan, M.Farm., dalam konteks pengembangan kosmetik, menekankan pentingnya memahami kebutuhan pengguna dan pengalaman penggunaan ketika menilai relevansi sebuah produk. Prinsip tersebut dapat diterapkan dalam eksperimen ini dengan melihat apakah produk dan rutinitas yang dipilih benar-benar sesuai dengan kebiasaan pengguna.
Selama 14 hari, catatan sederhana dapat membantu pengguna mengetahui langkah mana yang berjalan lancar dan mana yang membutuhkan penyesuaian. Hasilnya tidak harus berupa rutinitas yang lebih panjang atau lebih ketat. Bisa jadi, perubahan paling berguna justru membuat rutinitas lebih mudah dijalankan secara konsisten.
Eksperimen ini menunjukkan bahwa kebiasaan yang sering terlewat dapat menjadi informasi berharga untuk memahami hubungan antara produk dan kehidupan sehari-hari. Ketika pola tersebut dikenali, pengguna memiliki dasar yang lebih jelas untuk memperbaiki rutinitas tanpa harus terus menambah langkah perawatan. [][Eva Evilia & Rommy Rimbarawa & Rudi Tenggarawan/BTL]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.