Dalam beberapa tahun terakhir, rutinitas skincare berkembang menjadi semakin kompleks. Banyak orang menggunakan cleanser, toner, essence, beberapa serum, moisturizer, hingga sleeping mask dalam satu waktu. Semakin banyak langkah yang dilakukan, semakin muncul rasa bahwa kulit sedang dirawat dengan lebih serius.
Namun, dalam praktik sehari-hari, rutinitas yang terlalu panjang tidak selalu mudah dipertahankan. Ada hari ketika seseorang terlalu lelah untuk menjalankan semua langkah, atau justru mulai merasa bingung membaca kondisi kulitnya sendiri. Ketika terlalu banyak produk digunakan bersamaan, perubahan kecil pada kulit menjadi lebih sulit dipahami.
Eksperimen sederhana ini mencoba melihat apa yang terjadi ketika rutinitas skincare dipangkas menjadi lebih sederhana. Tujuannya bukan membuktikan bahwa banyak produk itu salah, tetapi memahami bagaimana kulit bereaksi saat jumlah langkah dan produk mulai dikurangi.
Saat Rutinitas Dipangkas Menjadi Lebih Ringan
Pada percobaan awal, rutinitas yang sebelumnya terdiri dari banyak layer disederhanakan menjadi beberapa langkah utama saja. Produk yang digunakan hanya mencakup cleanser, satu produk inti, moisturizer, dan sunscreen untuk pagi hari. Layer tambahan seperti essence, beberapa serum aktif, atau sleeping mask dihentikan sementara.
Dermatolog Dr. Shereene Idriss dalam buku The PillowtalkDerm Guide to Skincare [2024] menjelaskan bahwa terlalu banyak produk aktif dapat membuat kulit mengalami overstimulation, terutama jika lapisan perlindungan kulit sedang tidak stabil. Pendekatan yang lebih sederhana sering membantu kulit kembali menemukan keseimbangannya secara bertahap.
Hal lain yang cukup terasa dari rutinitas sederhana adalah perubahan pada konsistensi penggunaan. Rutinitas yang lebih singkat cenderung lebih mudah dijalankan setiap hari, bahkan saat sedang sibuk atau lelah. Skincare tak lagi terasa seperti tugas panjang yang melelahkan.
Ahli dermatologi Leslie Baumann dalam buku Cosmetic Dermatology [2009] menjelaskan bahwa efektivitas skincare tidak hanya ditentukan oleh jumlah produk, tetapi oleh kecocokan formula dan kemampuan kulit untuk mentoleransi rutinitas tersebut secara konsisten. Terlalu banyak produk tidak selalu meningkatkan hasil jika kulit justru mengalami stres karena penggunaan berlebihan.
Rutinitas yang lebih sederhana bukan berarti kurang serius dalam merawat kulit. Dalam beberapa kondisi, pendekatan seperti ini justru membantu pengguna memahami apa yang benar-benar dibutuhkan kulitnya. Skincare akhirnya tidak lagi sekadar soal banyaknya langkah, tetapi tentang menjaga keseimbangan yang bisa dipertahankan dalam kehidupan sehari-hari. [][Eva Evilia & Rommy Rimbarawa & Rudi Tenggarawan/BTL]